Harga Plastik Naik, Pramono Dorong Alternatif Bungkus Ramah Lingkungan

Harga Plastik, Pramono Anung

Suara Dunia Nusantara – Kenaikan harga plastik di Jakarta dalam beberapa waktu terakhir menjadi sorotan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Lonjakan ini dinilai membebani pelaku usaha makanan, terutama pedagang kecil yang harus menambah modal tanpa bisa langsung menaikkan harga jual.

Kenaikan harga plastik terjadi sejak Ramadan 1447 Hijriah, dengan peningkatan berkisar Rp5 ribu hingga Rp10 ribu tergantung ukuran. Dalam konteks ini, isu harga plastik Jakarta tidak hanya berdampak pada rantai pasok, tetapi juga langsung dirasakan oleh pelaku usaha di lapangan.

Pramono menyebut bahwa kenaikan harga dipicu oleh faktor global, seperti lonjakan harga minyak dan gangguan distribusi akibat konflik di Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz. Sementara itu, Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku plastik.

Keterbatasan Kewenangan dan Upaya Daerah

Dalam penjelasannya, Pramono menegaskan bahwa pengaturan harga plastik bukan berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Namun demikian, pihaknya tetap berupaya mencari solusi untuk mengurangi dampak yang dirasakan masyarakat.

Baca Juga :  Pejabat Cilacap Dibawa ke Jakarta Usai OTT KPK Bupati

Harga plastik ini terus terang, kewenangan ketentuannya bukan di Pemerintah DKI Jakarta. Tetapi tentunya kami harus melakukan inovasi,” ujar Pramono.

Dalam sudut pandang ini, keterbatasan kewenangan tidak serta-merta membuat pemerintah daerah pasif. Justru, pendekatan yang diambil mengarah pada perubahan pola penggunaan di tingkat konsumen dan pelaku usaha.

Suara Dunia Nusantara
Pramono Anung Alternatif Plastik

Peralihan ke Wadah Alternatif

Untuk merespons kenaikan harga plastik Jakarta, Pemprov DKI mendorong penggunaan wadah alternatif yang lebih ramah lingkungan. Salah satu opsi yang diangkat adalah penggunaan daun pisang sebagai pembungkus makanan.

Menurut Pramono, metode ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada plastik, tetapi juga memiliki keunggulan dalam hal kemudahan terurai secara alami.

Kalau kondisinya tetap seperti ini, pasti akan menjadi beban. Maka untuk itu, ya kita kadang-kadang harus kembali ke cara tradisional,” ujarnya.

Yang menarik, pendekatan ini mengarah pada praktik lama yang pernah umum digunakan dalam distribusi makanan. Dalam praktiknya, penggunaan daun pisang juga dinilai dapat menjadi solusi sementara di tengah kenaikan harga bahan baku plastik.

Baca Juga :  Imlek 2026 di Jakarta Perkuat Diplomasi Budaya dan Diaspora

Dampak Langsung ke Pedagang Kecil

Di lapangan, kenaikan harga plastik Jakarta berdampak langsung pada pedagang kecil. Mereka harus menyesuaikan pengeluaran tanpa memiliki ruang besar untuk menaikkan harga jual.

Salah satu pedagang nasi goreng di Jatinegara, Jakarta Timur, mengaku masih mempertahankan harga jual demi menjaga pelanggan. Kondisi ini membuat margin keuntungan semakin tertekan.

Sementara harga satu porsi masih belum naik, soalnya kan saya masih mempertahankan langganan saya dulu,” kata Raden.

Di sisi lain, kekhawatiran muncul jika harga dinaikkan. Pedagang menilai daya beli masyarakat dapat menurun dan berpotensi membuat pelanggan beralih ke tempat lain dengan harga lebih murah.

Dalam konteks tersebut, kenaikan harga plastik Jakarta tidak hanya menjadi persoalan bahan baku, tetapi juga berimbas pada strategi bertahan pelaku usaha makanan di tengah persaingan.

Related posts